2411.25 Membangun Jalur Karir Siswa Melalui Kolaborasi TNA, LSP, dan BKK 3

Membangun Jalur Karir Siswa Melalui Kolaborasi TNA, LSP, dan BKK

Penguatan kualitas karir siswa SMK tidak lagi bisa mengandalkan pola lama karena dunia kerja
berubah cepat dan standar kompetensi terus meningkat. Perusahaan lebih selektif dalam proses
rekrutmen sehingga sekolah harus mampu menyelaraskan kurikulum dan pelatihan dengan
kebutuhan nyata industri. Dalam konteks inilah workshop Menentukan Kebutuhan Kurikulum
Berbasis SKKNI melalui Penguatan Training Need Analysis (TNA) Bersama Industri Mitra menjadi
sangat penting. Kegiatan ini diikuti seluruh Ketua BKK SMK se-Kabupaten Pasuruan dengan
menghadirkan narasumber dari Save the Children dan BLK Surabaya yang menawarkan perspektif
pemberdayaan remaja serta standar kompetensi berbasis SKKNI.

Kegiatan workshop ini sejalan dengan arah kebijakan Perpres Nomor 68 Tahun 2006 tentang
Revitalisasi Pendidikan dan Pelatihan Vokasi yang menekankan pentingnya peningkatan kualitas
SDM, penyelarasan kompetensi lulusan dengan industri, serta keterlibatan dunia usaha.
Prinsip-prinsip ini menjadi landasan bagi sekolah dalam memperkuat penyusunan kurikulum agar
tetap relevan dengan tuntutan dunia kerja.

Training Need Analysis (TNA) menjadi proses kunci yang membantu sekolah memahami
kompetensi apa yang dibutuhkan industri dan membandingkannya dengan kompetensi yang
dimiliki siswa. Melalui analisis ini, sekolah mampu memetakan kesenjangan kompetensi secara
lebih akurat dan merancang pelatihan yang benar-benar diperlukan. Hasil TNA membantu
memperjelas jalur karir siswa karena kompetensi yang mereka bangun sesuai dengan kebutuhan
lapangan kerja.

Dalam proses ini, LSP, BKK, dan Ketua Program Keahlian memegang peran sentral. LSP
memperkuat validitas kompetensi siswa melalui skema sertifikasi yang selaras dengan kebutuhan
industri serta menyediakan asesor berpengalaman sebagai rujukan teknis bagi sekolah. BKK
bertindak sebagai penghubung utama antara sekolah dan perusahaan dengan memanfaatkan hasil
tracer study, umpan balik dari industri, serta tren rekrutmen sebagai dasar penyusunan pelatihan.
Sementara itu, Ketua Program Keahlian menjadi penggerak utama dalam menerapkan hasil TNA
ke dalam kurikulum dengan memetakan ulang materi ajar, menyelaraskan strategi pembelajaran,
serta menyusun roadmap pengembangan kompetensi bagi siswa.

Agar implementasi TNA berjalan efektif, sekolah perlu melakukan identifikasi kompetensi
berdasarkan SKKNI, mengumpulkan data kemampuan siswa, berdiskusi langsung dengan industri,
menganalisis kesenjangan kompetensi, dan merumuskan pelatihan prioritas yang dapat
dilaksanakan secara berkelanjutan. Evaluasi berkala memastikan bahwa pelatihan tetap adaptif
terhadap perubahan kebutuhan industri.

Workshop ini menjadi momentum penting untuk membangun masa depan karir siswa SMK secara
lebih terstruktur karena kolaborasi antara BLK Surabaya, Save the Children, BKK, LSP, dan ketua
program keahlian menunjukkan bahwa pengembangan karir siswa merupakan tanggung jawab
bersama. Dengan pelatihan yang tepat, siswa dapat berkembang menjadi lulusan yang kompeten

secara teknis, memiliki kemampuan komunikasi yang baik, menguasai budaya kerja industri, serta
mampu beradaptasi dengan dinamika dunia kerja. Kolaborasi inilah yang memungkinkan
terbentuknya jalur karir siswa yang lebih kuat dan berdampak nyata.